WAJAH BARU AL-QA’IDAH

Abu Mariyah Asy-Syami

Alih Bahasa: Usdul Wagha

Muraja’ah: Ust. Abu Sulaiman Al-Arkhabili

Pasca kesyahidan syaikh Usamah, Syaikh Athiyah, dan Syaikh Abu Yahya, muncullah nama-nama dan wajah-wajah baru dalam jajaran Al-Qa’idah, sebagian kemudian menjadi pemegang kebijakan tanzhim, namun arahannya berbeda sangat jauh dengan para syuhada yang telah lalu…

Dan di antara nama-nama ini adalah: Hussam Abdur Ra’uf, jikalau bukan karena dakwah ‘ashabiyah yang ingin merubah pandangan masyarakat umum terhadap Daulah Islamiyah, maka sama sekali tidak ada kepentinganku menyebut tentangnya walau cuma satu huruf.

 

Lalu siapakah Hussam Abdur Ra`uf?

Muncul dalam rilisan video As-Sahab Media, setelah sekilas memaparkan tentang biografinya, sepertinya mereka mempersiapkan sosok ini untuk menerima kepemimpinan tanzhim, di mana banyak para mujahidin di Syam ketika itu mengira bahwa Dr. Ayman telah terbunuh atau tertawan.

Dan mereka memperkenalkan orang ini dengan beberapa hal yang mengherankan:

[Selesai dari program Bahasa Inggris kemudian mendaftar untuk bekerja di Dinas Hubungan Luar Negeri di Kementrian Pertanian pada tahun 1981 hingga dia pergi berjihad melawan Soviet yang menjajah Afghanistan pada permulaan tahun 1986].

[Setelah menetap di bumi hijrah dan jihad selama Sembilan bulan, dia kemudian kembali ke Mesir dan kemudian mendaftar untuk berkerja sebagai sekretaris dan penanggung jawab teknis komputer di kantor kementrian pertanian di saat Dr. Yusuf menjabat sebagai pemimpin urusan pertanian]

Berkerja di kementrian pertanian? Apa mashlahat syar’i untuk menyebutkan hal ini? Bukankah keluarnya dia dari Mesir, kemudian setelah 9 bulan setelah jihad untuk kembali lagi ke Mesir dan kembali mendaftar untuk bekerja di kementrian Negara merupakan hal sangat aneh?

Kemudian dia mengatakan dalam perkataan yang panjang: “…Berkata Syaikh Abdul Aziz Ath-Thuraifi – hafizahullah – : Jihad akan terus ada hingga hari kiamat, dan tidak mungkin ada satu zaman pun yang kosong darinya…”

Apa mashlahat dari mengutip perkataan Thuraifi? Apakah perkataan Thuraifi seperti mutiara berharga, apakah tidak ada perkataan salaf dan imam-imam yang menyamai atau bahkan lebih tinggi darinya? Hingga harus mengutip perkataan dari seorang tokoh Sururiah – Al-Muhaddits Al-Qo’id Thuraifi – untuk membenarkan manhaj Jihad?!

Ath-Thuraifi?!

Ath-Thuraifi yang telah mengharuskan menjawab ‘Ya’ atas undang-undang thaghut baru Mesir?! Ath-Thuraifi yang menganggap Thaghut Saudi sebagai Ulil Amri?!

Demi Allah, ini adalah hal yang mengherankan! Dan pada kesempatan mendatang dengan izin Allah kita akan mengupas tentang biografi komandan baru tanzhim Al-Qa’idah ini.

 

Pemerintahan Mesir Ala Al-Qa’ida

Jikalau pemimpin Al-Qa’idah wajah baru meraih kursi thaghut Mursi, bagaimana dia akan mengatur Mesir?

Mencari pinjaman jangka pendek dengan bunga rendah, dan mengaktifkan hubungan persatuan Arab dan Islam dalam bidang ekonomi, di saat mencari solusi pengganti dari pijaman riba yang tidak mungkin bisa terlepas darinya

Jangan heran wahai para muwahid dari tema ini, hingga kalian bertanya-tanya; “Apa hubungan tanzhim jihad Al-Qa’idah dengan riba?”, bisa jadi engkau belum membaca apa yang ditulis oleh Hussam Abdur Ra`uf – komandan baru yang dipasarkan akhir-akhir ini oleh tanzhim Al-Qa’idah – di dalam makalahnya yang berjudul Lau Kuntu Makana Mursi wa Qa’adtu ‘Ala al-Kursi halaman 6 yang dipublikasikan oleh Mu`assasah Nukhbatu al-I’lam al-Jihadi:

“Adapun hutang yang sangat besar dan bunga riba yang berlipat-lipat dan lain sbeagainya, maka tidak ada yang lebih penting dari ini, dan mungkin bisa kita atasi secepatnya, dan adapun hal yang sangat penting, yang harus segera kita buat rencana untuk mencari alternatif pengganti dengan cara mencari pinjaman dari Negara lain agar memberikan kepada kita pinjaman jangka pendek tanpa bunga riba atau dengan bunga yang rendah hingga ditemukan penggantinya. Dan termasuk ke dalam hal ini adalah mengaktifkan kembali kerjasama Negara-negara Arab dan Islam dalam bidang ekonomi, dan ini akan kita jelaskan pada saatnya nanti, insya Allah”.

Maka inilah saran dari pemimpin baru Tanzhim AL-Qa’idah yang dilontarkan di atas meja pemerintahan Ikhwan sebagai solusi atas masalah ekonomi di Mesir!

Di saat ketika Allah mengumumkan perang terhadap siapa yang melakukan riba dari kalangan kaum muslimin baik sedikit ataupun banyak…seakan-akan jihad yang selama ini kita kenal dari Al-Qa’idah telah terhapus dari kamus mereka, dan lebih memilih jalur damai dan meninggalkan kewajiban demi menghargai pelukan hangat masyarakat.

Dan pelarian komandan Hussam Abdur Ra`uf tentang penghapusan utang riba termasuk ke dalam bab ini, karena takut dari revolusi masyarakat yang marah dan perkiraan tentang ketetapan pemerintah yang akan segera menyebabkan kemiskinan dan kesusahan hidup.

Contoh lain dari ‘menghormati pelukan masyarakat’ yang mulai meresap ke dalam manhaj Al-Qa’idah baru hingga menjadi pondasi yang dibangun di atasnya perkataan, perbuatan, ketetapan hingga ceramah-ceramah mereka, adalah apa yang telah dikatakan pemimpin Al-Qa’idah di negeri Maroko dalam dokumen ‘Taujihat umum dalam masalah proyek Jihad Islam’ halaman 8 yang dipublikasikan oleh Mu`assasah Nukhbat Al-I’lam Al-Jihadi (dan seolah mu`assahah ini sekarang tidak mempublikasikan sesuatu kecuali yang merusak jihad):

“(semestinya) bagi kita, dalam tahapan ini untuk tidak mencoba mendominasi panggung politik dan militer, dan agar kita tidak menjadi pemutus urusan dengan sendirinya, karena hal itu tidak memberikan maslahat bagi kita sekarang, namun kita berusaha mengikut-sertakan semua kekuatan rakyat yang aktif di dalamnya, seperti gerakan Tahrir Azwad dan gerakan Azwad Arab dan lain sebagainya… dan di antara hikmahnya adalah kita tidak memikul beban ini sendirian dalam tahap ini, namun kita ikut sertakan seluruh aktor dan seluruh komponen masyarakat”.

Dia menyeru untuk mengikutsertakan gerakan sekuler – Harakah Tahrir Azwad dan Harakah Azwad Al-Arabiyah – dalam panggung politik sebagai ganti dari menunjukkan permusuhan dan kebencian kepada mereka hingga mereka mau beriman kepada Allah saja!

{قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ}.

Allah berfirman: “Sungguh telah ada pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya suri tauladan yang baik, ketika mereka mengatakan kepada kaumnya sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, dan kami kufur kepada kalian, dan telah nampaklah permusuhan dan kebencian antara kami dan kalian selamanya hingga kalian beriman kepada Allah saja”

Adapun pinjaman riba yang diusulkan oleh komandan Hussam Abdur Ra`uf, maka sesungguhnya Rasulullah shallallahu Alaihi wa sallam telah melaknat pemakan harta riba, orang yang memberinya dan orang yang menuliskannya (Shahih Muslim), dan menjadikan satu dirham riba lebih besar dosanya dari 36 zina (Musnad Ahmad/Shahih al-Jami’), dan dosa teringan dari riba sama seperti dosa seseorang yang berzina dengan ibunya! (Ibnu Majah/ Shahih Al-Jami’).

Dan Allah telah mengancam orang-orang yang melakukan riba dengan peperangan, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ * فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ.

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kalian orang yang beriman. Maka jika engkau tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu, dan jikalau kalian bertaubat maka bagi kalian pokok harta kalian, kalian tidak menzhalimi dan kalian tidak dizhalimi” (QS. Al-Baqarah: 278-279).

Muqatil bin Hayyan rahimahullah berkata: “Rasulullah telah menulis kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu anhu; Perlihatkanlah kepada mereka ayat ini, jika mereka mengerjakannya maka bagi mereka poko harta mereka, jika mereka menolak maka kabarkanlah kepada mereka perang dari Allah dan Rasul-Nya”. [Tafsir Ibnu Abi Hatim].

Qatadah Rahimahullah berkata: “Allah mengancam mereka dengan bunuh sebagaimana yang kalian dengar, dan menjadikan mereka bahraj di mana saja mereka berada”. [Tafsir Ath-Thabari].

Mahmud Muhammad Syakir berkata di dalam catatannya; “Bahraj adalah sesuatu yang mubah, tempat yang bahraj berarti tempat yang tidak ada perlindungannya, dan darahnya bahraj, berarti boleh ditumpahkan”.

Al-Baghawi rahimahullah berkata; “Ahli ilmu ma’ani berkata; perang Allah: neraka, dan perangnya Rasulullah: pedang”. [Tafsir Al-Baghawi].

Ummul mukminin Aisyah Radhiyallahu anha telah mengingkari orang yang berjual beli dengan sistem ‘inah karena takwil – dan ‘inah termasuk dari riba – dia berkata; “Beritahukan Zaid bahwa dia telah menggugurkan pahala jihadnya bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kecuali jika dia bertaubat”. [Sunan Ad-Daruquthni].

Maka, di manakah komandan Hussam Abdur Ra`uf dari semua ancaman keras kepada pelaku riba ini? Dan apakah Al-Qa’idah masih menjadi pondasi jihad syar’i? atau dia sudah menjadi pondasi politik rakyat?

Hanya kepada Allah kami meminta pertolongan…

 

 

Bagaimanakah politik luar negeri Mesir seandainya seorang pemimpin AL-Qa’idah dengan wajahnya yang baru duduk di kursi thaghut Mursi?

Akan menjaga kedutaan Mesir di Negara-negara penting bagi Mesir baik secara militer, politi dan ekonomi.

Meminta bantuan dengan kedutaan Negara-negara lain untuk meminimalisir anggaran kunjungan diplomati Mesir.

Meminjam dana dari Negara-negara Arab dan Negara kawan untuk membangun proyek tempat tinggal masyarakat.

Berkata salah seorang pemimpin Al-Qa’idah yang akhir-akhir ini dipasarkan namanya oleh tanzhim; “Di antara kebijakan pertama yang akan aku ambil adalah: …akan membubarkan kedutaan yang berada di negara-negara yang tidak memiliki kepentingan dengan Mesir, baik dari sisi politik, ekonomi dan militer – dan alangkah banyaknya itu – untuk mengurangi beban anggaran kunjungan diplomatik, dan mencukupkan dengan kantor konsulat Mesir di beberapa ibu kota saja, atau dengan mendirikan kedutaan Negara-negara lain demi kemashlahatan kedutaan Mesir seperti apa yang dilakukan dengan Negara-negara yang menghargai diri dan warganya, dan mau mengikuti politik penghematan” [Lau Kuntu Makana Mursi wa Qa’adtu ‘Ala Kursi].

Dia juga berkata: “Dan sepertinya masalah sosial yang paling penting dan sangat mendesak di masyarakat Mesir adalah tidak adanya pemukiman ekonomis yang nyaman bagi mayoritas warga… dan ini termasuk hal paling prioritas bagi Negara…dan ini termasuk hal yang harus segera ditangani oleh Negara, bisa dengan meminjam dana dari Negara-negara Arab lain atau Negara teman untuk mengatasinya” [Lau Kuntu Makana Mursi wa Qa’adtu ‘Ala Kursi].

Al-Qa’idah dan kedutaan? Al-Qa’idah dan konsulat? Al-Qa’idah dan Negara teman? Apakah ini Qa’idatul jihad? Al-Qa’idah-nya Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah yang telah mendeklarasikan perang terhadap Negara-negara Salib, Negara-negara murtad, dan Negara-negara yang telah menjarah Islam dan kaum muslimin?! Atau ini adalah Al-Qa’idah yang damai, politis dan mencari mashlahat…serta hubungan luar negeri dan diplomatik?!

Dan kita perlu bertanya-tanya:

Apakah ‘presiden’ Al-Qa’idah Hussam Abdur Ra`uf akan menjaga kedutaan Mesir di ibu kota Negara-negara yang penting bagi Mesir secara militer, politik dan ekonomi, seperti di Washington, Paris, Moskow, Doha, Riyadh, Teheran, Peking, dan New Delhi? Dan apakah dia akan meminta pinjaman kepada mereka berupa pinjaman jangka pendek dengan bunga riba yang ringan? (lihat pembahasan sebelumnya untuk mengetahui pandangan pemimpin Al-Qa’idah Hussam Abdur Ra`uf dalam masalah pinjaman riba).

Dan apakah dia akan meminta tolong kepada kedutaan Negara-negara teluk dan Eropa dan selainnya, demi kepentingan kedutaan Mesir? Apakah dia lupa bahwa kedutaan orang-orang salib dan murtad itu merupakan pusat intelijen yang tersebar di seluruh dunia untuk memerangi Islam dan memata-matai kaum muslimin? Apakah dia lupa bahwa Al-Qa’idah Syaikh Usamah rahimahullah dahulu menjadikan kedutaan Negara-negara salib itu sebagai taget dengan bom mobil dan istisyhadiyin? Apakah dia lupa bahwa Jama’ah Jihad di Mesir telah meledakkan kedutaan besar Mesir di Islamabad pada tahun 1995? Kemudian dikeluarkanlah sebuah risalah tulisan Dr. Ayman dengan judul ‘Syifa`u Shuduri Al-Mukminin – Risalah ‘an Ba’dhi Ma’ani Al-jihad fi ‘Amaliyati Tafjiri Islamabad’ (Obat bagi dada kaum mukminin – sebuah risalah tentang beberapa makna jihad dalam operasi peledakan di Islamabad), bahkan ini menjadi rujukan untuk melakukan pengeboman di kedutaan orang-orang murtad, namun sekarang pemimpin tanzhim ini menyeru untuk meminta tolong kepada mereka demi mengurangi beban biaya kunjungan diplomatik Mesir!

Dan ketika ‘pemimpin’ Al-Qa’idah menyebutkan istilah ‘Negara-negara Arab dan Negara teman’, tentu bukan Imarah Islam Afghanistan, Imarah Islam Kaukasus dan Daulah Islamiyyah di Iraq dan Syam, karena mereka juga sibuk dalam proyek tempat tinggal bagi rakyatnya, dan membelanjakan apa yang mereka miliki – walaupun dalam keadaan fakir – di jalan Allah, demi jihad melawan orang-orang salib dan murtad, dan mereka juga tidak memiliki kedutaan di Negara-negara kafir untuk dimintai tolong oleh Hussam Abdur Ra`uf untuk membantunya. (kecuali apa yang ada pada Thaliban sebelum perang 11 September di tiga ibukota pemerintahan murtad: Riyadh, Abu Dhabi dan Islamabad… aku memohon kepada Allah agar melindungi para thalabah dari kembali ke jalan itu”.

Kemudian, di manakah jihad defensive yang menjadi kewajiban di dalam kamus mereka? Di mana jihad offensive yang wajib? Bahkan di mana Millah Ibrahim, al-wala wal bara dan takfir kepada para thaghut dan orang-orang murtad? Aku tidak bisa membayangkan dia akan menjadikan kedutaan-kedutaan Mesir sebagai minbar untuk menampakkan permusuhan dan kebencian kepada para pemimpin ‘negara-negara sahabat’.

Dan sebagai penutup: Aku nasihatkan kepada pemimpin di Tanzhim al-Qa’idah Hussam Abdur Ra`uf untuk membaca ‘Al-Haq wal Yaqin fie ‘Adawati Ath-Thughatu wal Murtaddin’ tulisan syaikh syahid Abu Abdurrahman Al-Atsari (Sulthan Al-‘Utaibi –taqabbalahullah) dan ‘Silsilah al-‘Alaqat Ad-Dualiah fil Islam’ milik Syaikh al-Asir Abu Jandal al-Azdi (Fari Az-Zahrani – semoga Allah membebaskannya). Bahkan aku member nasihat agar dia bertaubat dari wasilah jahiliah ini yang di atasnya dia akan duduk di atas kursi thaghut Mursi.

Hanya kepada Allah tempat meminta pertolongan…

 

 

Apa kebijakan terpenting dalam bidang administrasi dan ekonomi dalam pemerintahan Mesir ala Al-Qa’idah apabila pemimpin Al-Qa’idah Hussam Abdur Ra`uf duduk di atas kursi Mursi?

“Mengeluarkan ketetapan untuk menghapus semua perayaan resmi Negara, dari hari-hari besar nasional dan lain-lain, untuk menghemat anggaran dari satu sisi, dan menghentikan banyaknya hari libur kerja dari sisi lainnya, karena kita dalam keadaan sangat perlu untuk mencurahkan segala upaya secara berkesinambungan demi merubah keadaan dengan secepat mungkin”. [Lau Kuntu Makana Mursi wa Qa’adtu ‘Alal Kursi].

Engkau boleh bertanya-tanya, apakah ini penjelasan seorang muwahhid mujahid? Atau ini adalah gumaman seorang yang sedikit muta`akhwin dan mutaqa’id (sedikit ikhwan sedikit al-Qaeda)?

Seandainya dia memaparkan masalah kerusakan duniawi yang ditimbulkan oleh perayaan hari nasional, setelah menjelaskan tentang hal-hal jahiliah dan kesesatan, maka ada sisi yang bisa diterima dari perkataannya, akan tetapi jika yang menjadi masalah dalam perkataannya dari awal hingga akhir hanyalah masalah kerusakan ekonomi, maka tidak!

Mendorong investasi untuk mengimbangi kekurangan modal dan menutup krisis ekonomi… dan yang terpenting dari itu adalah tersedianya sarana perhubungan dan pelabuhan untuk ekspor hasil produksi dengan biaya serendah mungkin ke Eropa dan Amerika dalam waktu secepatnya, karena Mesir memilki lokasi yang sangat strategis untuk itu, dan diprioritaskan adalah para investor dari Mesir sendiri, kemudian dari Arab kemudian selainnya, jika mereka sama dalam memberikan keuntungan dan syarat-syarat jaminan”. [Lau Kuntu Makana Mursi wa Qa’adtu ‘Alal Kursi].

Di mana janji Al-Qa’idah untuk menghancurkan para penjahat salib Amerika dan Eropa dengan jihad (dengan membunuh, perang, pertempuran dan terror) jauh sebelum membahas masalah sarana perhubungan dan pelabuhan untuk ekspor hasil produksi ke Eropa dan Amerika?! Lalu apa hikmahnya mendahulukan investor Mesir dari selain mereka? Bukankah ini adalah polusi nasionalisme mesir yang telah mencederai tanzhim?

“Mempertimbangkan tentang tenaga kerja yang diperkirakan berjumlah puluhan ribu warga mesir di sektor pariwisata, sehingga tidak mungkin menghentikan sektor ini, maka saya rasa jika diadakan usaha pengarahan umum terhadap sektor ini, di mana akan menambah jumlah wisatawan domestic yang hadir dan mendorong para wisatawan dari orang-orang Arab dan kaum muslimin, dan bahkan orang-orang asing untuk datang ke Mesir sambil tetap memegang erat nilai-nilai dan akhlaq masyarakat, dan menjaga kebiasaan yang sesuai dengan hukum Syari’at”. [Lau Kuntu Makana Mursi wa Qa’adtu ‘Alal Kursi].

Mengapa dia tidak mengajak untuk menutup sektor usaha pariwisata Mesi r yang membesar-besarkan Jahiliah ala fir’aun dan berhala-berhalanya, mengapa dia tidak memerintahkan untuk meruntuhkan patung spinx dan piramida sebagaimana Thaliban meruntuhkan patung Budha di Bamiyan?

“…dan di dalam konteks ini, kita harus merubah nama Departemen Pertahanan, karena Islam tidak mengenal jihad devensif saja, tetapi terkadang kita perlu menyerang secara pre-emptive untuk menghancurkan musuh di awal waktu, kita harus merubahnya menjadi Departemen Peperangan dan Perdamaian, kenapa warga Israel yang mereka semua adalah kombatan menamai Departemen mereka dengan Departemen Perang, sedangkan kita kaum Muslimin dilarang dari hal itu dan menetapkan namanya dengan Departemen Pertahanan yang terasa rendah dan lemah?! [Lau Kuntu Makana Mursi wa Qa’adtu ‘Alal Kursi].

Demi Allah, keadaan ‘orang Al-Qa’idah’ ini sangat mengherankan!

Di ayat mana, hadits, atsar, fiqh, atau ungkapan bisa didapati bahwa makna jihad offensive adalah “menyerang dan memerangi musuh secara pre-emptive (kadang-kadang) untuk menghancurkan musuh di awal waktu”?! atau dia membuat definisi baru tentang jihad offensive?

Ustadz Sayyid Quthb rahimahullah telah berkata, membantah orang-orang semacam Hussam Abdur Ra`uf ini: “Adapun usaha untuk mencari-cari pembenaran tentang alasan defensive jihad Islam dengan makna yang sempit sesuai dengan pemahaman modern tentang perang defensive, dan usaha untuk mencari-cari pembenaran atas fakta-fakta jihad Islam hanyalah sebatas menahan agresi kekuatan musuh atas ‘negara Islam’ – yang dalam pemahaman sebagian orang berarti Jazirah Arab – maka ini adalah usaha yang tumbuh dari sedikitnya pemahaman atas tabiat dien ini, dan tabiat perputaran yang ditetapkan di muka bumi. Sebagaimana ini adalah perasaan yang muncul dari rasa kalah terhadap tekanan kenyataan hari ini, dan di hadapan serangan orientalis licik terhadap Jihad Islam. Engkau lihat, apakah jika Abu Bakr, Umar dan Utsman – radhiyallahu anhum – telah mengamankan Jazirah Arab dari serangan Romawi dan Persia, apakah mereka akan duduk dan berhenti menyebarkan Islam hingga penghujung bumi? Dan bagaimanakah mereka memperjuangkan perluasan ini?” [Ma’alim fi Ath-Thariq].

Lalu apa itu ‘Departemen Perang dan Damai’? Bukankah dalam ini terdapat kerancuan sebagaimana nama ‘Departemen Pertahanan’, bahkan lebih. Apakah ada di bumi ini Negara yang menggabungkan dua kata yang berlawanan ‘perang’ dan ‘damai’ dalam satu kata, kecuali di pemerintahan Mesir ala Al-Qa’idah?

Hanya kepada Allah kami meminta pertolongan…

Ya Allah, janganlah Engkau berikan kekuasaan kepada mereka di muka bumi ini kecuali jika mereka bertaubat dengan sungguh-sungguh dari penyimpangan mereka.

Ditulis oleh: Abu Maysarah Asy-Syami

Alih bahasa: Usdul Wagha

Muraja’ah: Abu Sulaiman Al-Arkhabiliy

3 Jumada Ats-Tsaniah 1436H

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s